Senin, 05 Maret 2018

Sekilo Gubal Gaharu Rp120 Juta


Hasil gambar untuk gubal gaharu
TELATEN: Kherjuli di tengah kebun gaharunya. Sebelum usia 7 tahun, bibit tanaman ini butuh ketelatenan ekstra.
Tanaman Bahan Wewangian Bisa Tumbuh di Tanjungpinang
Kebun gaharu ini terletak di Jalan Nuri Lorong Merpati. Hamparan bibit gaharu ini membentang di atas lahan yang berada persis di depan rumah pemiliknya, Kherjuli. Menurut lelaki yang juga aktif dengan kegiatan menjaga lingkungan ini mulai menanam gaharu belum genap setahun.

Selain melindungi pohon dari kepunahan, Kherjuli menanam gaharu karena gupalnya bernilai ekonomi tinggi. Satu kilogram gupal gaharu bisa dijual hingga Rp120 juta. Gubal adalah kayu gaharu yang terinfeksi. Gubal gaharu yang berkualitas rendah pun laku di pasaran untuk disuling menjadi minyak. Sementara daunnya dapat dimanfaatkan untuk teh gaharu.
Negara potensial pemakai gaharu adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, United Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya.
“Indonesia merupakan penghasil gaharu terbesar di dunia,” tutur Kherjuli yang ditemui di kebunnya, pekan lalu.
Gupal gaharu, jelas Kherjuli, bisa dipakai untuk bahan dasar pembuatan sabun, aroma dan wangi-wangian lain. Wewangian ini salah satunya dipakai oleh warga Tionghoa untuk sembahyang dan acara tradisional lainnya.
Diakui olehnya, menanam gaharu membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi jika petani memilih menanam dari bibit, harus rajin mengecek serta mengenali penyakit yang kemungkinan menyerangnya sehingga gubal takan akan terbentuk dengan sempurna.
“Dari biji menjadi bibit kecil dibutuhkan waktu sekitar 30 hari,” jelas Kherjuli.
Beruntung iklim Tanjungpinang mendukung pertumbuhan pohon ini. Namun demikian, bibit gaharu harus selalu diawasi. Masa rentan bibitnya ialah hingga tujuh bulan. Ia tak boleh diletakkan di tempat yang terbuka, tak boleh terkena sinar matahari langsung. Setelah tujuh bulan barulah bisa dipindahkan ke lahan terbuka.
Justru di usia tujuh bulan tingkat kematian gaharu bisa meningkat. Karena bisa jadi pohon sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Di Kepri, kebun gaharu sudah terlebih dahulu ada di Kabupaten Lingga, tepatnya di Pulau Penuba. Perkebunan di sini sudah ada sejak tahun 2000. Saat ini, Kherjuli menjaga 12 ribu bibit gaharu dengan sabar.
Yang membuat mahal gaharu bukan pohonnya, melainkan gubalnya. Gumpalan gubal gaharu bisa terjadi secara alami juga dengan rekayasa atau buatan. Proses rekayasa mulai dikembangkan untuk mendapatkan gubal gaharu lebih cepat ketimbang menunggu terbentuknya gubal secara alami.
Proses ini dengan memasukkan bahan kimia dan jamur melalui pengeboran serta penyuntikan. Proses ini membutuhkan waktu setahun.
“Jadi inovasi ini tidak perlu menunggu sampai puluhan tahun sebagaimana terbentuknya gubal gaharu secara alami. Dengan rekayasa tiga tahun sudah bisa dipanen hasilnya,” kata Kherjuli.
Proses alami sendiri kadang belum tentu menghasilkan gubal. Gumpalan gubal ini terjadi di dahan, batang, ranting yang terinveksi zat kimia, jamur dan bakteri. Bila memang terjadi gubal, bentuknya lempung. Berbeda dengan pembentukan gubal rekayasa, bentuk dan kualitasnya bagus.
Bahan kimia dan obat rekayasa dibeli Kherjuli dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang seperti batangan dan ada yang berbentuk cairan. Harganya pun relatif, bahkan ada yang hanya Rp10 ribu.
Kherjuli ingin gaharu bisa memasyarakat di Kota Tanjungpinang, khususnya bagi warga yang memiliki lahan kosong. Ia akan dengan senang hati berbagi ilmu untuk warga yang ingin menanam gaharu. Sementara bagi sekolah yang menginginkan penghijauan di lingkungannya, Kherjuli bersedia membantunya.(YUNI ASTUTI)

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar